Thursday, December 16, 2004
Acara Gus Dur, Cak Nur, Megawati Dibubarkan oleh Tentara
Di jaman Orde Baru, menyelenggarakan turnamen sepakbola di tingkat lokal saja harus minta izin kepada Kepolisian. Jika berkumpul lebih dari 30 orang, berarti pertemuan massa, maka harus ada surat izin juga. Maka hari itu, di tahun 1996, Pesantren Tambak Beras Jombang, menyelenggarakan Seminar Nasional dengan pembicara KH AbdurahmanWahid, Megawati Sukarnoputri dan Dr. Nurkholish Madjid – meminta izinnya tak cukup kepada Kepolisian lokal, tetapi harus atas rekomendasi dari Kodam Brawijaya, suatu badan militer yang kekuasaannya meliputi seluruh provinsi Jawa Timur.
Itupun ketika acara berlangsung, setelah satu dua tahap para intel Kepolisian dan Militer mengirimkan report, akhirnya diambil keputusan oleh penguasa bahwa acara harus dibubarkan. Tatkala Cak Nurkholish Madjid berpidato di podium, datang sepasukan tentara membubarkan acara. Langsung bereaksilah seluruh hadirin, terutama para pemuda yang tergabung dalam dua organisasi Nahdlatul Ulama, yakni PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan Gerakan Pemuda Anshor.
“Allahu Akbar! Allahu Akbar!” terdengar suara itu membahana di seluruh penjuru. Terjadi perlawanan langsung terhadap kedatangan tentara.
Sejak awal acara saya sebagai hadirin biasa duduk di luar ruangan, karena penuh, jongkok di sebuah pojok. Sudah jelas segera akan terjadi bentrokan fisik. Saya melompat dan berlari. Saya temui Komandan Pasukan Militer, saya rangkul pundaknya dan saya bisikkan ke telinganya:
“Kenapa Mas? Disuruh membubarkan acara ya?”
Sang Komandan menjawab: “Iya e Cak....”
“Anda membawa Surat Pembubaran Acara?”
“Ya”
“Sebentar ya Mas....” – kemudian saya menoleh ke arah para pemuda yang marah dan saya berkata: “Rek, tolong minta waktu 5 menit saja, tolong tenang selama 5 menit, sesudah itu mari bersama-sama melakukan perkelahian massal. Ya?”
Para pemuda itu, dari sorot mata dan gejala gerak mereka, bisa memaklumi permintaan saya. Spontan saya ajak Komandan berjalan – “Kita bicara sebentar saja di bawah pohon sebelah sana ya Mas...?”
Komandan berjalan bersama saya.
“Apa akibat bagi Sampeyan kalau tugas ini tak dilaksanakan?” tanya saya.
“Ya langsung dipecat Cak!” jawab Komandan.
“Oke, begini. Sampeyan saya antar naik podium, saya dampingi Sampeyan membacakan Surat Pembubaran, maka tugas sampeyan beres”
Tanpa menunggu jawabannya, saya langsung seret dia lagi mendekat ke tempat acara, memasuki ruangan, langsung naik ke mimbar sambil saya memberi kode kepada Cak Nur agar minggir.
Suasana sangat tegang. Dengan terbata-bata Komandan membacakan Surat Pembubaran Acara. Setelah selesai, saya ambil mikrofon dan memberi pengumuman: “Saudara-saudara, mohon mafhum acara kita skors lima menit”.
Kemudian Komandan saya ajak turun dan bersama pasukannya saya antar lagi ke seberang halaman di bawah pohon. “Tolong Sampeyan semua tunggu di sini sebentar saja. Acara seminar sudah dibubarkan oleh Pak Komandan, jadi kita semua sudah aman. Silahkan merokok-merokok dulu”.
Saya bergegas pergi masuk ruangan lagi dan langsung naik mimbar. “Saudara-saudara! Acara seminar telah dibubarkan. Sekarang marilah kita memulai acara yang baru.....” – saya melirik kepada Gus Dur: “Gus, enaknya apa nama acara kita yang baru ini ya?”
Gus Dur spontan menjawab: “Mauidlah Hasanah!”
“Mauidlah Hasanah. Nasehat yang baik. Baiklah Saudara-saudara, marilah kita mulai acara Mauidlah Hasanah ini dengan menampilkan pembicara pertama: Dr. Nurkholish Madjid! Kami persilahkan Cak Nur naik mimbar...”
Saya turun, menyongsong Cak Nur, beliaupun naik ke mimbar. Sekedar info, istilah Mauidlah Hasanah sampai sekarang dipakai oleh utamanya masyarakat NU untuk menyebut ceramah. Hari itulah lahirnya istilah itu, oleh Gus Dur, yang diambil dari ayat AlQur’an.
Cak Nur tenang berpidato, saya berlari menemui Komandan dan pasukannya. “Kita tenang saja di sini. Kita beri kesempatan mereka berunding apa yang harus mereka lakukan sesudah pembubaran ini”. Kami kemudian mengobrol panjang lebar.
Beberapa lama kemudian, karena merasa sudah menjalankan tugas dan aman, pasukan berpamit pulang ke markasnya. Saya mengantarkan sampai ke tepi jalan dan melambai-lambaikan tangan kepada mereka.
Para pemuda yang tadi sudah meneriakkan “Allahu Akbar!” dan mengacung-acungkan tangan, sekarang tertawa geli dan bergerundal di antara mereka. Acara berlangsung lancar. Ketika berakhir, ternyata saya diminta untuk memimpin doa penutupan.
Saya berdoa: “Ya Allah, jadikankanlah Abdurahman Wahid dan Megawati menjadi pengantin di pentas pelaminan kepeminpinan nasional....”
Ternyata beberapa tahun kemudian doa itu terkabul. Pengalaman pembubaran acara oleh militer itu membuat saya bersyukur karena selama era Orba ratusan kali saya menyelenggarakan acara tanpa izin. Kenapa tidak pernah dibubarkan? Kuncinya sederhana: di acara-acara saya tidak pernah ada tokoh penting. Jadi dianggap tidak membahayakan. Bintangnya bukan Gus Dur, Mega atau Cak Nur. Bintang acara saya adalah semua orang yang datang.
Beberapa pembacaan puisi dan pementasan saya dibubarkan ketika pentas atau tidak mendapatkan izin pentas, tetapi faktor bahayanya bagi penguasa tidak terletak pada saya, melainkan pada puisi atau reportoar dramanya.
--- Emha Ainun Nadjib, www.padhangmbulan.com